Senin, 16 Mei 2011

Logika Marketing ala Penjual Koran

JAKARTA, KOMPAS.com — Penjual koran jalanan rata-rata bukan orang dengan latar belakang pendidikan memadai. Namun, tempaan pengalaman telah melatih logika (common sense) mereka menemukan strategi pemasaran media yang menguntungkan.

Dede (25), saat melintasi Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Kamis (12/5/2011), terlihat menggenggam setumpuk media cetak dengan tangan kirinya. Tangan kanannya melambaikan dua harian terbitan Ibu Kota.

"Kalau yang dua (koran) ini yang kemungkinan paling banyak dibeli. Yang satu karena selalu dibeli dan yang ini karena judulnya paling menarik," kata Dede sambil menunjukkan harian yang memilih tema "Uang Pulsa Anggota DPR" sebagai headline. Media cetak yang dilambaikan, menurut Dede, adalah media yang dipilih sebagai prioritas penjualannya hari itu.

Dede tidak bisa memberikan alasan mengapa judul tertentu dianggap paling menarik minat pembeli. Namun, pria yang mampu menamatkan SMEA dari hasil berjualan koran ini menjamin, dari pengalamannya selama 18 tahun, judul harian tersebut paling mengundang minat baca. "Ini yang paling menarik. Bisa jadi yang paling laris terjual hari ini," katanya.

Pedagang koran jalanan ini setiap hari berjualan koran mulai dari perempatan Matraman, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), hingga ke Taman Ismail Marzuki. Menurut Dede, feeling-nya sudah terlatih untuk menangkap kecenderungan minat dan karakter pasar. Dia pun sudah bisa mengategorikan pembeli berdasarkan lokasi penjualan.

"Kalau pembeli di jalan atau dalam bus, biasanya yang dicari bukan korannya, tapi beritanya. Jadi topik yang lagi hangat yang dicari. Kalau di rumah sakit, tabloid dan majalah lebih menarik," jelas Dede.

Pendapat tak jauh berbeda disampaikan Surya Sihite (20), penjaja koran di perempatan Matraman. "Judul yang gede dan menarik, foto yang bagus dan warnanya enak dilihat," tuturnya menjelaskan pilihan pembeli koran di jalan. Ia lantas memberi contoh dengan membandingkan tiga koran.

"Ini yang paling bagus, tulisannya gede dan gambarnya bagus. Kalau ini gambarnya kurang menarik. Yang satu ini judulnya terlalu datar," kata pria tamatan SMP ini menganalisa.

Berbeda dengan kedua penjual sebelumnya, Ungkap Nababan (49), penjual koran di perempatan Matraman, memiliki kriteria tersendiri. Dia tidak mengenal istilah teknis yellow journalism/press (jurnalisme kuning) maupun istilah hit an eye atau eye-catching. Namun, Nababan memiliki pandangan tersendiri.

"Judul saja tidak lagi menentukan. Sekarang pembaca sudah paham mana koran yang menarik. Beberapa pembeli pernah bilang koran ini judulnya doang yang menarik. Isinya cuma manas-manasin dan gosip, malah enggak ada hubungan sama judulnya," ujar Nababan sambil menunjukkan sebuah surat kabar.

Menurut dia, oplah koran tersebut menurun drastis karena masyarakat saat ini semakin memahami strategi pemberitaan media itu.

Dia berpendapat, tampilan halaman depan yang serampangan akan mengurangi minat baca. "Kecuali kalau media itu punya informasi khusus yang dicari pembaca," katanya sambil menunjukkan dua tabloid khusus perangkat komunikasi dan otomotif.

Pria asal Medan yang merantau ke Jakarta sejak 1983 ini melanjutkan, topik yang mengundang minat pembeli adalah yang menyajikan isu aktual dan skandal atau kasus yang melibatkan publik figur. "Kalau saat ini yang paling menarik, ya, kasus-kasusnya DPR dan masalah di PSSI," ujarnya.

Nababan yang sudah puluhan tahun menjajakan media cetak, sejak 1984, juga menyebut beberapa lokasi strategis yang menjadi tempat pemasaran mereka. Perempatan utama dan ramai serta rumah sakit menjadi lokasi paling ideal, menurutnya, selain terminal angkutan umum. Meski demikian, jalan-jalan tertentu yang relatif tidak begitu ramai pun memiliki tingkat penjualan tinggi.

"Kawasan Menteng-Cikini, seperti Jalan Imam Bonjol dan Jalan Diponegoro, termasuk wilayah laris. Orang-orang bermobil yang lewat di situ kayaknya suka membaca koran. Sayangnya sekarang sudah dilarang. Katanya, karena pejabat negara sering lewat di situ," ungkap Nababan dengan dialek Medan yang khas.

Dia juga menyebut dua surat kabar khusus Jakarta sebagai media yang paling diburu pembaca. Oplah kedua koran tersebut di atas seratus per hari, merujuk hasil penjualannya dibantu tiga orang bawahannya di sekitar Matraman dan Salemba. "Biasanya saya ambil 120-150 eksemplar untuk kedua koran itu," kata Nababan.

Tambahan dari TS :
Semua pengalaman diatas berasal dari jam terbang yang tinggi, tentunya jam terbang yang tinggi tak akan terwujud tanpa adanya Jam Pertama. Artinya ketika ide dan keinginan sudah mantap, ACTION adalah hal yang mutlak dilakukan, berhasil dan tidaknya itu hanya bagian dari proses.
Seberapa banyak anda mengikuti seminar, pelatihan, seberapa tinggi pendidikan anda, seberapa ahli para mentoring dan pelatih di seminar-seminar, hanya sia-sia bila anda tak segera beraksi.
" Hidup Entrepreneur Indonesia "

sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2011/05/13/10030467/Logika.Marketing.ala.Penjual.Koran